PASURUAN, Narasisatu.com – Gelombang protes warga Desa Tamansari akhirnya pecah. Rentetan persoalan yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik kini mulai dibuka terang-terangan ke publik. Mulai dugaan polemik ambulance desa, mobil siaga, hilangnya motor warga, hingga persoalan PBB, BPJS Ketenagakerjaan dan uang Bumdes, semuanya kini dipertanyakan warga secara terbuka.
“Kalau memang bersih, kenapa masalah terus muncul? Warga sudah capek dibohongi dan disuruh diam,” ujar salah satu warga usai mendatangi BPD Tamansari, Selasa (26/5/2026).
Awalnya, kegaduhan hanya soal motor warga yang hilang misterius. Namun persoalan terus melebar hingga menyeret pengadaan ambulance desa yang dinilai penuh tanda tanya. Belum selesai, mobil siaga desa juga ikut dipersoalkan. Kini muncul lagi dugaan persoalan tagihan PBB, BPJS Ketenagakerjaan hingga penggunaan dana Bumdes yang dianggap tidak transparan.
Merasa situasi makin tidak sehat, sejumlah tokoh masyarakat bersama warga mendatangi Ketua BPD. Mereka mendesak BPD berhenti menjadi penonton dan segera memanggil Kepala Desa Tamansari untuk memberikan penjelasan terbuka di hadapan masyarakat.
Tak hanya protes lisan, warga juga melayangkan surat resmi berisi tuntutan klarifikasi atas berbagai dugaan persoalan yang dinilai telah mencoreng pemerintahan desa.
“Jangan rakyat terus disuruh percaya kalau kenyataannya masalah di desa malah makin banyak,” celetuk warga di lokasi.
Situasi makin panas setelah klarifikasi Kepala Desa Tamansari, Mustain Romli, dinilai bertolak belakang dengan fakta di lapangan.
Saat dikonfirmasi wartawan, Romli sempat dua kali meminta bertemu. Namun dua kali juga wartawan dibuat menunggu berjam-jam tanpa kepastian. Klarifikasi akhirnya hanya disampaikan melalui pesan WhatsApp.
Romli mengklaim dana DP ambulance desa telah dibayarkan Rp100 juta dan sesuai SPJ. “Iya mas, tahap 1 sudah terbayar DP Rp100 juta,” kata Romli.
Namun pernyataan tersebut langsung dibantah pihak PT Putra Perdana Indoniaga (Wuling). Pihak dealer menegaskan dana yang masuk hingga saat ini hanya Rp70 juta. “Itu tidak benar. Yang masuk tetap Rp70 juta sampai sekarang,” tegas perwakilan dealer.
Perbedaan angka itu langsung memicu kecurigaan warga. Mereka mempertanyakan siapa yang sebenarnya sedang memainkan data dan memberi keterangan tidak benar kepada publik.
Sementara terkait mobil siaga desa warna hitam yang juga ramai dipersoalkan, Romli mengaku kendaraan tersebut dibeli menggunakan uang pribadi dan sengaja ditempatkan di balai desa untuk kepentingan warga.
Namun saat ditanya soal raibnya mobil siaga desa, Romli memilih bungkam tanpa penjelasan jelas.
Warga kini mendesak agar persoalan tersebut tidak lagi berhenti pada klarifikasi semata. Mereka meminta seluruh dugaan persoalan dibuka terang-benderang agar publik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Desa Tamansari. (Mal)
