SURABAYA, Narasisatu.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Jawa Timur mulai memperkuat konsolidasi organisasi di berbagai kabupaten dan kota sebagai respons terhadap sejumlah persoalan nasional yang dinilai semakin kompleks.

Langkah tersebut dilakukan di tengah menguatnya diskursus mengenai gerakan yang mereka sebut sebagai “Reformasi Jilid II”.

Koordinator Daerah BEM Nusantara Jawa Timur, Deni Oktaviano Pratama, menyampaikan bahwa munculnya gagasan Reformasi Jilid II berangkat dari keresahan yang dirasakan berbagai elemen masyarakat terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan demokrasi di Indonesia saat ini.

Menurut Deni, sejumlah kebijakan pemerintah menjadi perhatian mahasiswa, mulai dari implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembentukan Koperasi Desa (Kopdes), dinamika nilai tukar rupiah, hingga kebijakan yang berkaitan dengan peran Tentara Nasional Indonesia (TNI) di ruang sipil.

“Reformasi Jilid II ini lahir dari keresahan bersama. Kondisi negara hari ini dirasa jauh dari harapan dan di luar ekspektasi publik,” ujarnya di Surabaya, Rabu (10/6/2026).

BEM Nusantara Jawa Timur juga menyoroti pembangunan batalyon di sejumlah wilayah yang dinilai perlu melalui kajian komprehensif.

Baca Juga  Banding Kejari Batu Mengubah Segalanya, Manda Kini Jalani Hukuman Penjara

Menurut mereka, kebijakan tersebut harus disertai pengawasan yang ketat, transparansi, serta keterlibatan publik agar tidak menimbulkan kekhawatiran mengenai semakin luasnya pengaruh militer dalam kehidupan sipil.

Selain isu demokrasi dan tata kelola pemerintahan, kondisi ekonomi turut menjadi perhatian.

Beredarnya informasi mengenai kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax sejak malam sebelumnya disebut menambah kecemasan masyarakat.

Mahasiswa menilai kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi daya beli warga dan berdampak pada kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

“Isu kenaikan BBM seperti Pertamax tentu menjadi beban tambahan bagi masyarakat. Ini memperlihatkan bahwa kebijakan ekonomi hari ini belum sepenuhnya berpihak pada kondisi riil rakyat,” kata Deni.

Sebagai bentuk respons, BEM Nusantara Jawa Timur saat ini tengah melakukan konsolidasi intensif di tingkat daerah.

Seluruh BEM kabupaten dan kota yang tergabung dalam jaringan organisasi tersebut disebut sedang memperkuat koordinasi guna menentukan langkah bersama dalam waktu dekat.

Deni mengungkapkan, bahwa kemungkinan aksi penyampaian aspirasi akan dilakukan dalam dua hingga tiga pekan mendatang. Namun demikian, waktu dan bentuk kegiatan masih dalam tahap pembahasan internal.

Baca Juga  Temui Prabowo, Bahlil Ungkap Arah Baru Kebijakan Energi dan Kepemilikan Tambang

“Kami fokus pada konsolidasi di akar rumput. Kemungkinan aksi akan dilakukan dalam dua hingga tiga pekan ke depan, namun waktu pastinya masih kami matangkan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak dimaksudkan sebagai bentuk permusuhan terhadap pemerintah ataupun pemimpin negara.

Sebaliknya, gerakan tersebut disebut sebagai bagian dari tanggung jawab moral mahasiswa dalam mengawal jalannya pemerintahan agar tetap sejalan dengan amanat rakyat dan prinsip-prinsip demokrasi.

BEM Nusantara Jawa Timur berharap berbagai kritik, masukan, dan aspirasi yang disampaikan dapat menjadi perhatian pemerintah.

Mereka menilai dialog yang terbuka dan responsif diperlukan untuk menjawab berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kritik dan masukan yang kami sampaikan adalah bentuk kepedulian. Pemerintah seharusnya mampu menjalankan amanah rakyat dengan baik dan menjawab berbagai persoalan yang ada,” tegas Deni.

BEM Nusantara Jawa Timur menilai, apabila berbagai persoalan tersebut tidak mendapatkan solusi yang memadai, potensi munculnya gelombang gerakan mahasiswa yang lebih besar dengan semangat Reformasi Jilid II akan semakin terbuka di masa mendatang. (ML/Red)